Sabtu, 24 Mei 2014

SEMINGGU ANEH-ANEH AJA

Minggu ke dua survey orangutan penuh dengan moment-moment yang tak terduga dan mungkin saying untuk dilupakan. Mulai dari hal yang kecil, sampai ke hal-hal yang mempengaruhi kinerja pada saat melakukan survey. Dari hal-hal yang bersifat teknis maupun non teknis. Beberapa moment menarik tertuang dalam deretan paragraph dibawah ini.

·         Hari H tidak ada orang
Rencana yang sudah dipersiapkan dengan cukup baik akhirnya pupus gara-gara hal yang tak disangka-sangka. Pagi itu hari Jum’at aku menunggu jemputan kawan ke kantor di Ketapang untuk berangkat survey Orangutan. Rencananya kami akan berangkat menuju lokasi camp yang telah disurvey sebelumnya setelah sholat Jum’at. Karena jarak cukup jauh dari Ketapang ke lokasi, aku berencana pagi berangkat ke Desa Sungai Pelang dan kemudian ba’da sholat Jum’at berangkat dari desa itu.
Pagi itu sekitar pukul 08.30 WIB aku menghubungi kawanku karena belum sampai di kantor. Namun tidak ada respon sama sekali. Mungkin sedang perjalanan kesini pikirku. Ternyata memang benar, beberapa menit kemudian dia sampai dengan muka was-was, seperti orang kebingungan. Rupanya ada info bahwa tiga orang tim survey tidak bisa ikut karena ada urusan. Tetapi tidak jelas urusan apa sebenarnya mereka. Cukup mendadak sih memang.
Siang itu akhirnya kami yang tersisa (maksudnya aku dan kawanku) memutuskan untuk mencari orang lagi, karena mereka yang punya urusan baru bisa mengikuti survey tiga hari kedepan. Untungnya kami yang tersisa tidak serta merta mengamini tanggapan mereka. Baru terungkap ketika kami mampir ke rumah abangnya setelah survey dengan tim lain, rupanya mereka bertiga ada borongan pekerjaan dan nyatanya sampai seminggu pun belum beres juga kerjaan mereka. Memang begitulah resiko pekerjaan borongan, kalau dilihat secara kasat mata cukup menggiurkan duitnya. Tapi ketika dipelajari lebih mendalam dan dikerjakan, rupanya zonk….. Hehehee… *(Ada juga sih yang memang muantappp pekerjaan borongan. Tapi ya jarang-jarang).   

·         Tim baru (No Camp)
Jum’at malam aku dapat informasi dari Roby kalau sudah mendapatkan tim baru, menggantikan tim lama yang punya urusan penting yang nyatanya ada pekerjaan lain yang menurut mereka lebih menggiurkan. Tim baru ini merupakan kawan-kawan Roby yang memang belum terlalu pengalaman keluar-masuk hutan. Mereka mau ikut survey dengan syarat “no-camp” alias bolak-balik ke Desa. Aku akhirnya menyetujui saja permintaan mereka. Ya setidaknya kita coba dua hari kedepan bagaimana respon kondisi kita, apa tetap fit apa droup. Hehee…
Tim baru ini harapanku kedepannya bisa mengikuti kegiatan dalam upaya patrol Hutan Desa mereka. Selama ini masih sangat jarang kalangan muda yang ikut terlibat dalam patrol. Hanya di Hutan Desa Laman Satong saja yang sudah berhasil menggerakkan kalangan muda dalam melakukan kegiatan patrol. Itulah yang menjadi alasanku mennggapi permintaan mereka. Harapannya disela-sela kegiatan survey mereka bisa menikmati dan menjadi tertarik untuk bergabung dalam misi yang mulia ini. Ya prinsipku diperkenalkan dulu pada mereka. Setelah itu harapannya mereka akan tahu dan kemudian mulai menyukai. Akhirnya setelah menyukai akan timbul kecintaan. Aamiin…. J
Ternyata, pulang-pergi (PP) itu mengasyikkan juga. Salah satu hikmahnya adalah, tidur ditempat yang lebih beradap dan yang paling menarik adalah makanannya lebih nikmat dan beragam. Heheee


Rencana lokasi camp selama survey di Grid 210 & 221 "camp bekas penambang emas illegal"

·         Aliran Air & Jebakan
Grid yang kami survey lumayan cukup jauh dari jalan utama. Kami berjalan sepanjang 2 km untuk menuju lokasi di Grid 221 dan sepanjang lebih dari 3 km menuju Grid 210. Perjalanan ini rutin ditempuh selama survey karena kami sudah sepakat untuk pulang-pergi (PP) dari desa ke hutan.
Satu kilometer pertama dari jalan kami menyusuri jalan setapak di pinggir sungai, sampai menuju lokasi rencana camp kami di lahan bekas pertambangan emas illegal. Kemudian dilanjutkan lagi satu kilometer kearah Selatan dengan membuat rintisan, karena sudah masuk area hutan. Tiga ratus meter pertama masih termasuk hutan kerangas, tanah berpasir dengan tegakan yang agak jarang dan homogen. Rupanya ada bekas jalan setapak menuju ke hutan, sehingga kami menafaatkan jalur ini agar dapat menghemat energi alias tak merintis. Diperjalanan kami menemukan bekas pembakaran hutan yang membuat tegakan yang masih berdiri mongering. Mungkin untuk rencana digunakan untuk lahan perladangan.
Memasuki tujuh ratus meter dari Grid terdekat terdapat aliran air dari sungai yang kami lewati semua. Aliran air ini menyebar cukup luas mengalir ke area yang lebih rendah. Aliran air ini memang sudah tidak membentuk sungai lagi. Kami harus berhati hati karena banyak jebakan di dalam air alias banyak lubang-lubang yang dapat menghambat laju perjalanan kami. Lubang-lubang tersebut tak terlihat karena airnya cukup keruh. Dilokasi ini pula ditemukan bekas jalan gerobak pengangkut log dan tebangan yang dibiarkan.

·         Ban Bocor
Supaya kegiatan survey lebih optimal, kami berencana untuk berangkat lebih pagi. Ternyata rencana kami belum diberkahi. Ditengah-tengah perjalanan motor yang aku tunggangi “oleng”. Aku memperlambat laju dan mencoba memeriksa kondisi motor. Rupanya ban belakang bocor. Apes dah…. Kebetulan bocor pas ditengah-tengah jalan tanpa ada penghuni alias jalan ditengah-tengah lahan kosong. Kami harus mencari tukang tambal ban yang letaknya cukup jauh.
Sesampai ditukang tambal ban, ternyata  ban dalam harus diganti karena terkena kawat-kawat ban luar. Akhirnya ban dalam yang lama digunakan untuk pelapis ban dalam baru untuk menghindari tusukan kawat-kawat ban luar. Cukup membuang waktu juga ban bocor ini.

·         Rawa apa rawa-rawaan
Lokasi survey di Grid kami kali ini cukup dalam juga rawanya. Kedalaman airnya mencapai satu meter lebih. Anehnya, air rawa ini sebagian berasal dari para penambang emas illegal yang berada di dalam dan sekitar area survey. Di grid 210 kondisi lebih parah. Airnya cukup dalam dan tercemar oleh bahan-bahan kimia dari aktivitas pertambangan emas illegal tersebut. Mungkin jika airnya dianalisis ke laboratorium sudah banyak terkontaminasi bahan-bahan kimia berbahaya. Menurut beberapa orang, aktifivas pertambangan emas illegal ini sering menggunakan bahan kimia berbahaya, misalnya merkuri (air raksa).
Menurut Darmono (1995) dalam www.mineraltambang.com ada bentuk anorganik, Hg berikatan dengan satu atom karbon atau lebih, sedangkan dalam bentuk organik, dengan rantai alkil yang pendek. Senyawa tersebut sangat stabil dalam proses metabolisme dan mudah menginfiltrasi jaringan yang sukar ditembus, misalnya otak dan plasenta. Senyawa tersebut mengakibatkan kerusakan jaringan yang irreversible, baik pada orang dewasa maupun anak. Toksisitas Hg anorganik menyebabkan penderita biasanya mengalami tremor. Jika terus berlanjut dapat menyebabkan pengurangan pendengaran, penglihatan, atau daya ingat. Senyawa merkuri organik yang paling populer adalah methyl mercury yang berpotensi menyebabkan toksisitas terhadap sistem saraf pusat. Kejadian keracunan metil merkuri paling besar pada makhluk hidup timbul di tahun 1950-an di Teluk Minamata, Jepang yang terkenal dengan nama Minamata Disease
Fardiaz (1992) dalam www.mineraltambang.com menyatakan walaupun mekanisme keracunan merkuri di dalam tubuh belum diketahui dengan jelas, beberapa hal mengenai daya racun merkuri dapat dijelaskan sebagai berikut:
  1. Semua komponen merkuri dalam jumlah cukup, beracun terhadap tubuh.
  2. Masing-masing komponen merkuri mempunyai perbedaan karakteristik dalam daya racun, distribusi, akumulasi, atau pengumpulan, dan waktu retensinya di dalam tubuh.
  3. Transformasi biologi dapat terjadi di dalam lingkungan atau di dalam tubuh, saat komponen merkuri diubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
  4. Pengaruh buruk merkuri di dalam tubuh adalah melalui penghambatan kerja enzim dan kemampuannya untuk berikatan dengan grup yang mengandung sulfur di dalam molekul enzim dan dinding sel.
  5. Kerusakan tubuh yang disebabkan merkuri biasanya bersifat permanen, dan sampai saat ini belum dapat disembuhkan.

Kontaminasi raksa dapat melalui inhalasi, proses menelan atau penyerapan melalui kulit. Dari tiga proses tersebut, inhalasi dari raksa uap adalah yang paling berbahaya. Jangka pendek terpapar raksa uap dapat menghasilkan lemah, panas dingin, mual, muntah, diare,  dan gejala lain dalam waktu beberapa jam. Jangka panjang terkena uap raksa menghasilkan getaran, lekas marah, insomnia, kebingungan, keluar air liur berlebihan,  ritasi paru-paru, iritasi mata, reaksi alergi, dari kulit rashes, nyeri dan sakit kepala  dan lainnya.
Mercury memiliki sejumlah efek yang sangat merugikan pada manusia, di antaranya sebagai berikut :
  1. Keracunan oleh merkuri nonorganik terutama mengakibatkan terganggunya fungsi ginjal dan hati.
  2. Mengganggu sistem enzim dan mekanisme sintetik apabila berupa ikatan dengan kelompok sulfur di dalam protein dan enzim.
  3. Merkuri (Hg) organik dari jenis methyl mercury dapat memasuki placenta dan merusak janin pada wanita hamil sehingga menyebabkan cacat bawaan, kerusakan DNA dan Chromosom, mengganggu saluran darah ke otak serta menyebabkan kerusakan otak.


Sangat serius bahaya proses raksa bagi kesehatan dan lingkungan. Maka dari itu larangan penggunaan pun semakin ketat. Pada tahun 1988, diperkirakan 24 juta lb/yr dari raksa yang dilepaskan ke udara, tanah, dan air di seluruh dunia sebagai hasil dari aktivitas manusia. Hal ini termasuk raksa yang dilepaskan oleh pertambangan raksa dan memperbaiki berbagai operasi manufaktur, dengan pembakaran batu bara, dan sumber lainnya. (www.mineraltambang.com)

 Perkampungan di area pertambangan emas illegal
Ketika kami sedang survey di Grid 210, rupanya disana banyak sekali aktivitas pertambangan emas. Dilokasi ini para penambang secara berkelompok. Lubang (galian) hasil pertambangan sangat dalam. Mungkin mencapai sepuluh meter kedalamannya. Saat kami dating mereka biasa-biasa saja, karena saat kami ditanya sama mereka kami menjelaskan bahwa kami sedang melakukan survey orangutan. Bahkan saat kami foto-foto dilokasi ini ekspresi mereka biasa-biasa saja.
Saat kami mencoba mencari-cari lokasi menuju ke hutan, kami melihat ada jalur motor yang dibuat dari papan kayu agar roda tidak masuk ke genangan air atau rawa. Kami pun mengikuti jalur tersebut sekalian mau mencari lokasi menuju hutan yang tidak dalam rawanya. Beberasaat kemudian setelah berbelok kami melihat banyak tenda-tenda biru berjejer cukup banyak. Alamaaakkk…. Ada perkampungan di daerah ini. Lokasi ini benar-benar mirip perkampungan. Perkampungan orang-orang yang melakukan penambangan emas illegal. Mereka membawa keluarga mereka dilokasi ini demi efisiensi kerja mereka.

·         Kehabisan bahan bakar + laher roda belakang pecah
Sore itu kami pulang agak lebih awal dari hari sebelumnya supaya tidak kesorean sampai di desa. Hari itu memang cukup jauh survey kami lakukan. Sampai di jalan utama sesuai harapan, sekitar pukul 16.15 WIB. Diperkirakan kami sampai desa sekitar pukul 17.00 WIB. Baru berjalan beberapa menit, motor temenku kehabisan bahan bakar. Akhirnya motor kami dorong dengan bantuan motor satunya yang aku naiki. Untuk orang jualan bensin tidak terlalu jauh. Setelah mengisi bensin kami pun siap melanjutkan perjalanan kembali.
Beberapa saat kemudian yang tak diduga-duga terjadi. Motor yang aku naiki kemudian mengeluarkan suara ganda, yang satunya berasal dari roda belakang setelah kami terjebak lubang yang tidak cukup dalam sebenarnya. Setelah coba dicari-cari ternyata lahernya ada yang pecah. Aku kira ada gesekan antara roda dengan rangka motor atau komponen lain. Kami pun tak bisa mengendarai motor dengan cepat karena cukup berbahaya. Mau dibawa ke bengkel pun letaknya cukup jauh. Dengan sabar kami mengendarai dengan pelan-pelan hingga mega mega merah di ufuk barat pun lenyap, kami belum juga sampai ke rumah. Memang apes…    


Hikmah dibalik kehabisan bensin & laher pecah "panorama senja"

·         Illegal loging
Minggu ke dua ini aku juga mendengar, melihat dan sekaligus menemukan illegal logging, khususnya yang paling banyak ditemukan di Grid 221. Sistem illegal logging disini caranya dengan menebang pohon-pohon dengan diameter diatas 30 cm, kemudian dibiarkan dalam waktu beberapa hari dalam bentuk log. Lalu beberapa hari kemudian dipotong-potong dalam bentuk kayu balok dan dikeringkan di dalam hutan dalam tempo waktu tertentu. Setelah itu baru diangkut keluar hutan.

·         Padang alang-alang
Padang-alang cukup luas, mayoritas merupakan areal pertambangan emas illegal karena lokasi ini umumnya berpasir. Alang-alang ini ada yang cukup lebat dengan ketinggian mencapai lebih dari satu meter. Kalau kita menggunakan baju lengan pendek jika alang-alang terkena tangan maka akan menimbulkan gatal-gatal dan lecet yang membentuk sayatan-sayatan. Padang alang-alang ini cukup luas, mirip seperti di televise-televisi dalam sebuah sinetron. Hehehee…

·         Kamera Digital rusak
Setiap melakukan aktifitas survey aku selalu mendokumentasikannya. Khususnya jika kami menemukan sarang orangutan, illegal logging dan pertambangan emas illegal, serta yang pastinya lokasi-lokasi yang menurut kami menarik. Semuanya terdokumentasikan dengan baik selama tiga hari itu. Di hari keempat pun dokumentasi berjalan dengan lancer. Di hari keempat itu pula banyak peristiwa yang menarik ditemukan, mulai dari penambangan emas illegal, perkampungan di tengah kawasan hutan, sampai rawa-rawa yang cukup dalam. Sayangnya ketika kami masuk rawa kamera yang sudah aku bawa error karena terkena air ketika terpeleset di rawa ketika melewati kayu-kayu sebagai pijakan.
Malam harinya aku langsung mencoba mengcopy file yang ada di micro-SD ketika teman-teman yang baru ingin meminta foto. Awalnya sih bisa dibuka, tapi kok ndak bisa di copy di laptop. Kenapa ini ya… pikirku karena laptopnya agak error karena mungkin ada virus. Kemungkinan besar yang lain kenapa data tidak bisa di copy karena micro-SD nya masih belum kering karena terkena air ketika survey tersebut. Sehingga karena masih basah itulah micro-SD menjadi error. Sayangnya setelah sampai kantor micro-SD sudah diformat. Ternyata ada beberapa software atau aplikasi yang dapat merecovery data di dalam micro-SD. Meskipun belum tahu keakuratan hasilnya. Tapia pa salahnya dicoba. Sayang banget ya…. Gara-gara gak nanya dulu ke mbah google…. Padahal perjuangan untuk mendapatkan dokumentasi itu harus berjalan berkilometer, menyeberangi rawa, melewati padang alang-alang yang bikin gatal dan luka, cuaca panas yang bikin kulit menjadi lebih exotic alias gelap…. Hehehe…. Ya sudahlah, mau gimana lagi. Nasi sudah menjadi bubur.

*Sungguh saying sih sebenarnya… dokumentasi lenyappppp L


Tidak ada komentar:

Posting Komentar